{:en}Why Does Iron Ore’s Price Drop?{:}{:id}Mengapa Harga Bijih Besi Turun?{:}

1022 575 natasha

{:en}In last September-October, iron ore’s price is dropping about 20%. Even though the price reached the peak in February : USD 90 per ton. The price is increasing in February, June, and August according to report, but soon falling down. What is the reason?

It is because of China’s iron ore demand.

Government of China planned to mandate a significant cut of steel production in the country during winter to decrease pollution. This could decrease steel production about 30 million tons and decrease iron ore consumption about 50 million tons.

The immediate demand decreasing surely impacts Western Australia, which is the largest producer and exporter of iron ore in the world, accounting for 37% of global production in 2015. 94% of iron ore is produced from Pilbara. Of course, China is the biggest iron ore export market for Australia commodity, taking about 82% of production.

China’s demand increased price of iron ore from USD 30 billion per ton (2013) to USD 150 per tons (2011-2015). Australia’s iron ore sales also increased from 243 billion tons (2005-2006) to 757 billion tons (2015-2016).

Despite the drop in prices, iron ore mining industry forges ahead to hire new workers. By the end of August, Rio Tanto opened the USD 468 billion Silver Grass iron ore mining in Pilbara. Around the area, Balla Balla Infrastructure Group also plans to forge ahead with USD 5.6 billion iron ore export facility.

Source : www.miningpeople.com{:}{:id}Pada September-Oktober lalu, nilai bijih besi melemah sebanyak 20%. Padahal, harga bijih besi mencapai puncak pada bulan Februari dengan angka USD 90 per ton. Tercatat, harga bijih besi meningkat pada bulan Februari, Juni, dan Agustus, namun segera turun lagi. Apakah penyebabnya?

Sebabnya tak lain adalah permintaan bijih besi di Cina.

Pemerintah Cina menetapkan pembatasan signifikan terhadap produksi baja di negaranya selama musim dingin untuk mengurangi polusi. Hal ini mengakibatkan penurunan produksi baja sebesar 30 juta ton dan penurunan konsumsi biji besi mencapai 50 juta ton.

Penurunan permintaan yang tiba-tiba ini tentu berdampak pada Australia Barat, yang merupakan produsen dan eksporter bijih besi terbesar di dunia, terhitung dari 37% produksi global tahun 2015 lalu. 94% produksi bijih besi berasal dari daerah Pilbara. Tentunya, Cina merupakan pasar ekspor bijih besi terbesar untuk komoditas Australia, sekitar 82% produksi.

Permintaan Cina yang membuat harga bijih besi naik dari USD 30 per ton (2013) menjadi USD 150 per ton (2011-2012). Penjualan bijih besi Australia pun naik dari 243 juta ton (2005-2006) menjadi 757 juta ton (2015-2016).

Meski terdapat penurunan harga, industri tambang bijih besi terus menarik pekerja baru. Akhir Agustus lalu, Rio Tinto membuka tambang bijih besi Silver Grass di Pilbara seharga USD 468 juta. Pada area yang sama, Balla Balla Infrastructure Group merencakanan untuk maju dengan fasilitas ekspor bijih besi seharga USD 5,6 juta.

 

Sumber : www.miningpeople.com{:}

AUTHOR

natasha

All stories by: natasha