Indeks 487: Udara Kalimantan Berubah Berbahaya

1024 576 Arsyati Valdyana

Langit Palangka Raya berubah pekat sejak pertengahan Agustus 2026. Indeks Kualitas udara di kota tersebut tercatat mencapai angka 487, yang termasuk kedalam kategori berbahaya, dengan jarak pandang di beberapa titik menyusut hingga 1,4 kilometer sepanjang hari. Segala aktivitas terpaksa disesuaikan demi melindungi kesehatan masyarakat sekitar.

Skala  kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini menjadi salah satu yang tergolong besar. Sejak Januari hingga Juli 2026, tercatat lebih dari 34 ribu titik panas dan puluhan ribu hektare lahan yang terbakar di Pulau Kalimantan. Data satelit NOAA-20 per 20 Agustus 2026 lalu turut mencatat 1.487 hotspot tersebar di seluruh Kalimantan, dengan yang tertinggi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Warga sekitar menuturkan lingkungan sekitar mengubah siang menjadi gelap akibat pekatnya asap, disertai dengan keluhan kesehatan seperti Infeksi SAluran Pernapasan AKut (ISPA) yang mulai banyak dialami. Di Palangka Raya saja, tercatat ada 298 kejadian karhutla sejak awal juni hingga pertengahan Agustus 2028, membakar lebih dari 261 hektare lahan.

Riset ilmiah ikut menegaskan bahwa dampak kesehatan dari kebakaran gambut ini bersifat jangka panjang. Studi yang dipublikasikan di Environmental Health mencatat bahwa paparan PM2.5 akibat kebakaran gambut dapat berkontribusi pada peningkatan kematian dini, gangguan pernapasan kronis, hingga asma pada anak anak di wilayah yang terdampak. Studi lainnya di Environmental Science and Pollution menyatakan bahwa konsentrasi PM2.5 tahunan di Kalimantan Tengah meningkat hingga rata-rata 26 mikrogram per meter kubik akibat kebakaran gambut, dimana angka tersebut mencapai dua kali lipat ambang batas yang direkomendasikan.

Sumber:
Environmental Health (Springer)
Nature Communications (Kiely et al., 2021)

Author

Arsyati Valdyana

All stories by: Arsyati Valdyana